Pelatihan Tumpang Sari Mangga oleh KKN STEMBI Al-Aziziyah: Optimalkan Lahan, Tingkatkan Penghasilan Petani Desa Sodong
Belik, 16 Oktober 2025 – Dalam rangkaian KKN Tematik 2025, mahasiswa STEMBI Al-Aziziyah Randudongkal menggelar pelatihan sistem tumpang sari mangga di Kampung An-Nahdliyah, Desa Sodong Basari, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program bertema “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat melalui Potensi Lokal dan Inovasi” yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani melalui praktik pertanian berkelanjutan.
Apa Itu Tumpang sari dan Mengapa Penting?
Tumpang sari adalah teknik bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan secara bersamaan. Teknik ini memungkinkan petani mengoptimalkan ruang, waktu, dan hasil panen—terutama saat menanam tanaman jangka panjang seperti pohon mangga.
Dalam pelatihan ini, peserta diajak menanam tanaman sela seperti cabai, jagung, dan kacang tanah di antara pohon mangga. Tanaman sela ini memberikan hasil panen jangka pendek, sehingga petani tetap memiliki penghasilan sambil menunggu buah mangga siap panen.
“Tumpang sari adalah teknik cerdas untuk memanfaatkan lahan secara optimal. Tanaman sela yang ditanam di antara pohon mangga mampu menjadi sumber penghasilan tambahan sambil menunggu masa panen utama tiba,” jelas Bapak Slamet, S.E., M.Si., Dosen Pembimbing Lapangan.
Antusiasme Petani dan Kolaborasi Praktik Lapangan
Pelatihan diikuti oleh petani lokal, perangkat desa, dan mahasiswa KKN dengan penuh semangat. Sesi diskusi berlangsung dinamis, membahas:
- Jarak tanam ideal
- Pemilihan tanaman sela yang cocok
- Penggunaan pupuk alami
- Integrasi kearifan lokal dengan inovasi pertanian modern
“Harapannya, pelatihan ini tidak hanya menumbuhkan tanaman di lahan, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan dan semangat baru bagi petani Sodong Basari menuju kemandirian ekonomi desa,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Sinergi Kampus–Desa untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat. Mahasiswa KKN tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga berperan sebagai jembatan antara akademisi dan petani.
Untuk memastikan keberlanjutan, mahasiswa mendorong pembentukan kelompok tani belajar sebagai wadah berbagi pengalaman dan praktik lapangan. Dengan pendampingan berkelanjutan, diharapkan sistem tumpangsari ini benar-benar diterapkan di lahan warga, bukan hanya sebatas teori.
Menuju Desa Mandiri Pangan dan Ekonomi Kuat
Melalui tumpang sari, Desa Sodong Basari memiliki peluang besar untuk:
- Meningkatkan produktivitas lahan
- Diversifikasi penghasilan petani
- Mengurangi risiko gagal panen
- Memperkuat ketahanan pangan lokal
Model ini pun berpotensi direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Pemalang hingga seluruh Indonesia.
Penutup
Pelatihan tumpang sari mangga oleh KKN STEMBI Al-Aziziyah bukan hanya soal teknik bertani—tapi juga investasi jangka panjang bagi kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. .Dengan memadukan ilmu modern dan kearifan lokal, masa depan pertanian desa semakin cerah.




